Definisi Marxisme sebagai sebuah teori kelas sosial tertentu sering dianggap bertentangan dengan klaimnya atas status ilmiah. Di satu pihak ada yang mengakui hubungan Marxisme dengan satu golongan sosial, dan menarik kesimpulan bahwa Marxisme bukan ilmu karena tidak obyektif. Pendekar terkemuka dari sudut pandang ini adalah sosiolog terkenal Karl Mannheim. Di pihak lain ada yang mengakui status ilmiah Marxisme, kemudian menarik kesimpulan bahwa gagasan Marxis tidak bisa hanya berasal dari sudut pandang proletariat, karena kaitannya dengan kelas buruh itu – begitu filsuf Perancis Louis Althusser -- "merendahkan Marxisme ke tingkat ideologi saja".
Pembantahan ini mencerminkan kebingungan teoritis dalam dua hal: pertama tentang sifat-sifat ilmu-ilmu alam, kedua tentang perbedaan antara ilmu alam dan ilmu sosial.
Ilmu alam dianggap memberi pengetahuan yang persis dan" obyektif" tanpa pengaruh sosial, makanya ilmu alam ini dianjurkan sebagai model untuk ilmu sosial yang ingin menjadi "obyektif". Namun anggapan terhadap ilmu alam itu justru adalah produk sosial, dan berasal dari persekutuan antara para ilmuan dan kaum borjuis dalam perjuangan mereka untuk menghapuskan masyarakat feodal dan membangun perekonomian industrial. Seperti kaum borjuis gambarkan hukum-hukum masyarakat kapitalis sebagai sebuah hal yang bersifat alamiah dan abadi, mereka juga menggambarkan hasil-hasil ilmu alam sebagai suatu kebenaran yang mutlak. Namun jika kita menyimak sejarah ilmu alam, kita akan melihat bahwa hasil-hasil itu merupakan sejumlah kebenaran yang bersifat sementara dan relatif. Kegiatan untuk memproduksi hasil-hasil ini dirangsang oleh kepentingan manusia, dan hasil-hasil tersebut hanya terbukti benar jika bisa memuaskank epentingan manusia tersebut. Makanya ilmu alam bukanlah sesuatu yang mutlak, melainkan sesuatu yang terus berubah dan berkembang.
Semua ilmu sosial termasuk Marxisme jelas memiliki batasan yang sama, tetapi ada juga perbedaan yang penting antara ilmu alam dan ilmu sosial. Ilmu alam bisa mencapai tingkat obyektivitas yang tidak bisa diraih oleh ilmu sosial.
Yang pertama, pengetahuan selalu merupakan hubungan antara yang tahu dan apa yang diketahui, antara subyek dan obyek. Dalam ilmu alam, obyek itu terletak di luar manusia. Sedangkan untuk ilmu sosial, obyeknya adalah masyarakat yang terdiri atas manusia. Alam dan hukum alam bukanlahc iptaan manusia seperti masyarakat dan hukum sosial. Dunia alam bisa dirubah oleh manusia -- tetapi cuma berdasarkan hukum-hukum alam yang tidak bisa dirubah. Sedangkan hukum-hukum sosial bisa diganti.
Jadi semua manusia mempunyai hubungan yang kurang-lebih sama dengan hukum-hukum alam, tetapi hubungan mereka dengan hukum-hukum masyarakat sangatlah berbeda. Sebagai akibat dari dalil gayaberat, seorang buruh dans eorang konglomerat yang jatuh dari puncak Monas akan menabrak bumi dengank ecepatan dan konsekwensi yang sama. Namun hukum-hukum ekonomi tidak mengakibatkan hasil yang sama untuk keduanya, melainkan menghasilkan kesengsaraan buat yang pertama, dan kemakmuran untuk yang kedua.
Rumusan ilmu alam "proletarian" dan ilmu alam "borjuis" bikinan Stalin adalah omong kosong. Namun seperti dijelaskan oleh Lenin, "harapan bahwa ilmu sosial bisa berlagak netral dalam sebuah masyarakat yang berdasarkane ksploitasi, adalah sebodoh dan senaif mengharapkan sikap netral dari kaumm ajikan dalam menentukan apakah gaji kaum buruh akan dinaikkan dengan mengurangi laba perusahaan".
Yang kedua, tujuan ilmu pengetahuan adalah membantu dalam upayanya untuk mengubah realitas – kenyataan alam atau kenyataan sosial. Kelas borjuis ingin mengubah lingkungan alam, dan memang terpaksa harus mengubahl ingkungan alam itu, untuk menghimpun modal (akumulasi). Makanya kelas borjuis tersebut membutuhkan ilmu alam. Namun kaum borjuis tidak ingin mengubah sistem sosial, sebaliknya ingin mengabadikan susunan masyarakat yang ada. Makanya di bidang sosial mereka lebih memerlukan ideologi defensif daripada pendekatank eilmuan. Itulah sebabnya sebagian besar kegiatan yang dipandang sebagai ilmu sosial oleh kaum borjuis sebenarnya bukan ilmu sama sekali, melainkan upayap embenaran struktur-struktur sosial yang ada dengan cara membodohi masyarakat.
Kadang-kadang, kelas kapitalis memang perlu mengubah kenyataan sosial dalam batasan-batasan tertentu – batasan sistem kapitalis – jadi ilmu sosial borjuis memang menghasilkan beberapa pengetahuan, dan pengetahuan ini bisa juga dipakai kaum sosialis untuk melawan kapitalisme. Tetapi pengetahuan tersebut selalu terletak dalam (dan dikungkungi serta di-distorsikan oleh)k erangka teoretis yang menghalangi pengertian dari kesuluruhan sistem sosial secara lengkap. Satu-satunya golongan yang berkepentingan serta berkemampuan untuk mencapai pengertian akan sistem sosial secara lengkap itu adalah kelas buruh. Seperti dikatakan Marx: "Timbulnya ide-ide revolusioner mensyaratkana danya sebuah kelas revolusioner." Maka, dasar status ilmiah dari Marxismea dalah hubungannya dengan kelas buruh tersebut.
Terkadang argumentasi tersebut dibantah dengan mengeluh bahwa ini terlalu membatasi relevansi Marxisme untuk kesuluruhan ilmu pengetahuan. Misalnya Georg Lucacs, pada tahun 1924 menyatakan bahwa "Materialisme historis [yaitu Marxisme – red.] adalah teori revolusi proletarian"; kemudian pendapatnya berubah: pada tahun 1967 dia mengecam "prasangka" yang "ingin mereduksi materialisme historis yang seharusnya universal kepada satu dimensi saja…" Tetapi pembantahan Lukacs ini salah arah. Definisi Marxisme sebagai ilmu proletarian tidak membatasi teori ini kepada analisis perjuangan kelas buruh ataupun kepada sistem kapitalis saja (walaupun ini jelas merupakan tugas utama kaum sosialis). Kita bisa saja menganalisis kesuluruhan sejarah umat manusia sampai zaman moderen dari sudut pandang kelas buruh. Contohnya tulisan Engels tentang proses munculnya manusia dari makhluk lebih primitif. Argumentasi utama tulisan ini adalah bahwa "pekerjaan merupakan syarat dasar dari kehidupan manusia … makanya kegiatan kerja ini yang mengadakanm anusia sendiri." Kesimpulan itu baru dapat ditarik berdasarkan pengertianM arxis tentang kegiatan kerja kelas buruh moderen yang dicapai Marx dan Engels tahun 1840-an.
Engels tak urung menegaskan tentang implikasi politik dari pengkajian antropologis yang dia lakukan, yaitu: "perlunya revolusi dalam mode produksi". Marxisme memiliki relevansi universal, justru karena ini berdasarkan pada kepentingan kelas buruh, yang disebut "kelas universal" oleh Marx –u niversal dalam arti kata kelas ini bisa membebaskan seluruh umat manusia. Dan universal pula karena tidak memerlukan golongan di atasnya untuk berkuasaa taupun golongan di bawahnya untuk dihisap, sehingga bisa meluas menjadi satu dengan umat manusia secara menyeluruh.
Rabu, 24 Desember 2008
Sudut pandang dan perjuangan kelas buruh sebagai dasar Marxisme
Menurut Marx, "Bukan kesadaran sosial yang menentukan kenyataan sosial, melainkan kenyataan sosial yang menentukan kesadaran." Makanya untuk mengerti dan mendefinisikan sebuah filfasat, teori ataupun ideologi, terutama kita perlu menganalisis "kenyataan sosial" yang merupakan dasar filsafat itu.
Dalam Manifesto Komunis, Marx mendefinisikan berbagai mazhab yang mengaku "sosialis" dengan menunjuk ke golongan sosial yang mereka wakili, yaitu "sosialisme feodal", "sosialisme borjuis kecil", dsb. Kemudian Trotsky membuktikan bahwa kunci pokok dari ideologi dan gerakan fasis adalah posisi kelas borjuis kecil yang terjepit diantara kubu modal dan kubu proletarian. Kita bisa saja mengajukan banyak contoh tambahan, namun yang jelas, metode analisis yang sama harus diterapkan kepada Marxisme sendiri. Dan inim erupakan pendekatan Marx and Engels.
Tulisan Engels Anti-Duehring mulai dengan pernyataan bahwa: "Sosialisme moderen isinya yang utama adalah pengertian, dari satu sisi, mengenai pertentangan kelas antara pemilik dengan non-pemilik modal, antara kaum kapitalis dan kaum buruh; dan dari sisi lainnya adalah pengertian tentangk eadaan anarkis yang marajalela di bidang produksi." Kita dapat melengkapir umusan Engels ini dengan menambahkan bahwa Marxisme menyimak kontradiksi-kontradiksi tersebut dari sudut pandang proletariat atau kelasb uruh. Menurut Marx: "Seperti kaum ekonom [non-sosialis] adalah wakil ilmiah dari kelas borjuis, begitu juga kaum sosialis serta komunis adalah para teoritisi dari kelas proletar." Dan kita membaca dalam Manifesto Komunis:
Kesimpulan-kesimpulan yang ditarik kaum komunis sama sekali tidak berdasarkan pada ide-ide atau prinsip-prinsip yang ditemukan atau diciptakan begitu saja oleh pemikir ini atau itu, melainkain kesimpulan-kesimpulan tersebut menjelaskan dan mencerminkan hubungan sosial nyata yang timbul dari perkembangan-perkembangan historis yang sedang berlangsung di depan mata kita saat ini.
Manifesto tersebut juga memuat kalimat-kalimat yang luar biasa pentingnya sebagai berikut:
Kaum Komunis berbeda dari partai-partai buruh lainnya hanya dalam hal ini belaka: 1. Dalam perjuangan nasional kaum proletar di mancanegara, mereka menegaskan dan menekankan kepentingan bersama seluruh proletar independen dari bangsanya masing-masing; 2. Dalam setiap tahap perjuangan kelas buruh,m ereka selalu dan di mana-mana mewakili kepentingan umum dari seluruh gerakan buruh.
Pendek kata, Marxisme adalah teori untuk seluruh kelas buruh secara utuh, independen dari kepentingan jangka pendek dari berbagai golongan sektoral, nasional, dll. Oleh karena itu, Marxisme bertentangan dengan oportunisme politik, yang justru mengorbankan kepentingan umum seluruh kelas buruh demi tuntutan sektoral dan/atau jangka pendek.
Kita telah mengembangkan sebuah definisi sosial yang sekaligus historis. Definisi semacam itu juga sanggup untuk menjelaskan munculnya Marxisme di saat tertentu dalam sejarah. Eksploitasi serta penindasan sudah ada selama ribuan tahun, dan tahap pertama kapitalisme sudah timbul beberapa abad yangl alu, namun Marxisme tidak bisa berkembang sebelum sistem kapitalis mengembangkan alat-alat produksi serta kelas buruh sendiri, sampai akhirnyap otensi kelas tersebut yang mampu menjatuhkan sistem kapitalis bisa dilihatd engan jelas. Jangan lupa, Marx sendiri hanya menjadi "Marxis" setelah berkenalan dan bergaul dengan golongan buruh revolusioner di Paris tahun 1843. Baru saat itulah Marx menemukan "kelas dengan rantai radikal" dan menyatakan solider dengan kelas buruh itu.
Pendekatan terhadap asal-usul Marxisme ini sangat berbeda dengan pendekatan yang digunakan Kautsky dan Lenin pun (dalam karyanya "Apa Yang Harus Dilakukan" atau "What is to Be Done?"). Kautsky dan Lenin berargumentasi bahwa sosialisme harus disuntikkan ke dalam kelas buruh dari luar. MenurutK autsky, "sosialisme dan pertentangan kelas muncul bersama tetapi yang satut idak berasal dari yang lain … Golongan intelektual adalah wahana ilmu, bukan proletariat." Sedangkan menurut Lenin, "di Rusia teori sosial-demokrasi [artinya disini: sosialis] timbul secara independen dari perkembangan spontan gerakan kelas buruh; teori itu timbul sebagai hasil alamiah dari perkembangan pikiran golongan intelektual revolusioner." Dalam tulisan yang lain saya sudah berusaha membuktikan bahwa argumentasi ini salah, betapa jelek implikasinya, dan bahwa Lenin sendiri pendapatnya berubah sesudah mengalami aksi-aksi kaum buruh revolusioner tahun 1905. Argumentasi Kautsky dan Lenin ini merupakan materialisme kontemplatif seperti yang dikecam oleh Marx dalam tulisannya "Tesis Tentang Feuerbach".
Dalam Manifesto Komunis Marx memberikan penjelasan lain mengenai peranan golongan intelektual sosialis: "sebagian dari kaum ideologb orjuis yang mampu untuk mengerti perkembangan historis" membelot dari kelas kapitalis dan "menyeberang ke kubu proletariat". Yang jelas, mereka tidak bisa "menyeberang" ke sebuah golongan yang belum berkembang dan belum berdampak dalam perjuangan sosial (seperti di Rusia sebelum tahun 1905 -- saat Lenin menulis argumentasi yang salah itu).
Marxisme bukan hanya merupakan teori tentang perlawanan dan perjuangan kelas buruh melawan sistem kapitalis, tetapi juga tentang kemenangan gerakan sosialis. Aspek ini dikedepankan Marx saat menulis bahwa adanya kelas-kelas sosial serta pertentangan antar-kelas bukan penemuan baru:
Jauh-jauh hari kaum ahli sejarah borjuis sudah menggambarkan perkembangan konflik antar-kelas dan para ahli ekonomi menggambarkan anatomi ekonomi dari kelas-kelas itu. Hal baru yang saya buktikan, hanyalah: (1) adanya kelas-kelas sosial berkaitan dengan tahap-tahap historis tertentu; (2) bahwa perjuangan kelas buruh mengarah ke diktatur proletariat (3) bahwa diktaturt ersebut hanya merupakan fase peralihan ke penghapusan kelas-kelas itu dan ke pendirian sebuah masyarat tanpa kelas.
Lenin mengemukakan argumentasi yang sama bahkan secara lebih tegas dalam bukunya "Negara dan Revolusi". "Seorang Marxis," tulisnya, "adalah seorang yang memperluas pengakuan akan adanya perjuangan kelas buruh sampai ke pengakuan akan perlunya diktatur proletariat … Itulah batu ujian utama buat pengertian gagasan Marxis." Pernyataan Lenin ini diarahkan terutama kepadaK autsky, yang tampil selama beberapa dasawarsa sebagai pendekar Marxisme ortodoks, tetapi menolak revolusi sosialis yang benar-benar terjadi di Rusia. Namun pernyataan tersebut masih sangat relevan dewasa ini, saat tidak sedikit intelektual "berminat" pada sosialisme bahkan menggunakan Marxisme sebagai alat untuk menginterpretasikan kenyataan sosial, tetapi tidak antusias sama sekali untuk memakai teori serta praktek Marxis untuk memperjuangkan revolusi kelas buruh.
Sampai sekian jauh pengkajian kita tentang Marxisme sudah menunjukkan bahwa gagasan ini memuat tiga unsur penting: (1) Marxisme sebagai teori tentang kepentingan umum seluruh kelas buruh di tingkat internasional; (2) Marxisme sebagai hasil dari timbulnya proletariat moderen serta perjuangannya melawan kapitalisme; (3) Marxisme sebagai kemenangan revolusi kelas buruh.K etiga unsur ini bisa digabung dalam satu definisi: Marxisme sebagai teori revolusi proletariat internasional.
Dalam Manifesto Komunis, Marx mendefinisikan berbagai mazhab yang mengaku "sosialis" dengan menunjuk ke golongan sosial yang mereka wakili, yaitu "sosialisme feodal", "sosialisme borjuis kecil", dsb. Kemudian Trotsky membuktikan bahwa kunci pokok dari ideologi dan gerakan fasis adalah posisi kelas borjuis kecil yang terjepit diantara kubu modal dan kubu proletarian. Kita bisa saja mengajukan banyak contoh tambahan, namun yang jelas, metode analisis yang sama harus diterapkan kepada Marxisme sendiri. Dan inim erupakan pendekatan Marx and Engels.
Tulisan Engels Anti-Duehring mulai dengan pernyataan bahwa: "Sosialisme moderen isinya yang utama adalah pengertian, dari satu sisi, mengenai pertentangan kelas antara pemilik dengan non-pemilik modal, antara kaum kapitalis dan kaum buruh; dan dari sisi lainnya adalah pengertian tentangk eadaan anarkis yang marajalela di bidang produksi." Kita dapat melengkapir umusan Engels ini dengan menambahkan bahwa Marxisme menyimak kontradiksi-kontradiksi tersebut dari sudut pandang proletariat atau kelasb uruh. Menurut Marx: "Seperti kaum ekonom [non-sosialis] adalah wakil ilmiah dari kelas borjuis, begitu juga kaum sosialis serta komunis adalah para teoritisi dari kelas proletar." Dan kita membaca dalam Manifesto Komunis:
Kesimpulan-kesimpulan yang ditarik kaum komunis sama sekali tidak berdasarkan pada ide-ide atau prinsip-prinsip yang ditemukan atau diciptakan begitu saja oleh pemikir ini atau itu, melainkain kesimpulan-kesimpulan tersebut menjelaskan dan mencerminkan hubungan sosial nyata yang timbul dari perkembangan-perkembangan historis yang sedang berlangsung di depan mata kita saat ini.
Manifesto tersebut juga memuat kalimat-kalimat yang luar biasa pentingnya sebagai berikut:
Kaum Komunis berbeda dari partai-partai buruh lainnya hanya dalam hal ini belaka: 1. Dalam perjuangan nasional kaum proletar di mancanegara, mereka menegaskan dan menekankan kepentingan bersama seluruh proletar independen dari bangsanya masing-masing; 2. Dalam setiap tahap perjuangan kelas buruh,m ereka selalu dan di mana-mana mewakili kepentingan umum dari seluruh gerakan buruh.
Pendek kata, Marxisme adalah teori untuk seluruh kelas buruh secara utuh, independen dari kepentingan jangka pendek dari berbagai golongan sektoral, nasional, dll. Oleh karena itu, Marxisme bertentangan dengan oportunisme politik, yang justru mengorbankan kepentingan umum seluruh kelas buruh demi tuntutan sektoral dan/atau jangka pendek.
Kita telah mengembangkan sebuah definisi sosial yang sekaligus historis. Definisi semacam itu juga sanggup untuk menjelaskan munculnya Marxisme di saat tertentu dalam sejarah. Eksploitasi serta penindasan sudah ada selama ribuan tahun, dan tahap pertama kapitalisme sudah timbul beberapa abad yangl alu, namun Marxisme tidak bisa berkembang sebelum sistem kapitalis mengembangkan alat-alat produksi serta kelas buruh sendiri, sampai akhirnyap otensi kelas tersebut yang mampu menjatuhkan sistem kapitalis bisa dilihatd engan jelas. Jangan lupa, Marx sendiri hanya menjadi "Marxis" setelah berkenalan dan bergaul dengan golongan buruh revolusioner di Paris tahun 1843. Baru saat itulah Marx menemukan "kelas dengan rantai radikal" dan menyatakan solider dengan kelas buruh itu.
Pendekatan terhadap asal-usul Marxisme ini sangat berbeda dengan pendekatan yang digunakan Kautsky dan Lenin pun (dalam karyanya "Apa Yang Harus Dilakukan" atau "What is to Be Done?"). Kautsky dan Lenin berargumentasi bahwa sosialisme harus disuntikkan ke dalam kelas buruh dari luar. MenurutK autsky, "sosialisme dan pertentangan kelas muncul bersama tetapi yang satut idak berasal dari yang lain … Golongan intelektual adalah wahana ilmu, bukan proletariat." Sedangkan menurut Lenin, "di Rusia teori sosial-demokrasi [artinya disini: sosialis] timbul secara independen dari perkembangan spontan gerakan kelas buruh; teori itu timbul sebagai hasil alamiah dari perkembangan pikiran golongan intelektual revolusioner." Dalam tulisan yang lain saya sudah berusaha membuktikan bahwa argumentasi ini salah, betapa jelek implikasinya, dan bahwa Lenin sendiri pendapatnya berubah sesudah mengalami aksi-aksi kaum buruh revolusioner tahun 1905. Argumentasi Kautsky dan Lenin ini merupakan materialisme kontemplatif seperti yang dikecam oleh Marx dalam tulisannya "Tesis Tentang Feuerbach".
Dalam Manifesto Komunis Marx memberikan penjelasan lain mengenai peranan golongan intelektual sosialis: "sebagian dari kaum ideologb orjuis yang mampu untuk mengerti perkembangan historis" membelot dari kelas kapitalis dan "menyeberang ke kubu proletariat". Yang jelas, mereka tidak bisa "menyeberang" ke sebuah golongan yang belum berkembang dan belum berdampak dalam perjuangan sosial (seperti di Rusia sebelum tahun 1905 -- saat Lenin menulis argumentasi yang salah itu).
Marxisme bukan hanya merupakan teori tentang perlawanan dan perjuangan kelas buruh melawan sistem kapitalis, tetapi juga tentang kemenangan gerakan sosialis. Aspek ini dikedepankan Marx saat menulis bahwa adanya kelas-kelas sosial serta pertentangan antar-kelas bukan penemuan baru:
Jauh-jauh hari kaum ahli sejarah borjuis sudah menggambarkan perkembangan konflik antar-kelas dan para ahli ekonomi menggambarkan anatomi ekonomi dari kelas-kelas itu. Hal baru yang saya buktikan, hanyalah: (1) adanya kelas-kelas sosial berkaitan dengan tahap-tahap historis tertentu; (2) bahwa perjuangan kelas buruh mengarah ke diktatur proletariat (3) bahwa diktaturt ersebut hanya merupakan fase peralihan ke penghapusan kelas-kelas itu dan ke pendirian sebuah masyarat tanpa kelas.
Lenin mengemukakan argumentasi yang sama bahkan secara lebih tegas dalam bukunya "Negara dan Revolusi". "Seorang Marxis," tulisnya, "adalah seorang yang memperluas pengakuan akan adanya perjuangan kelas buruh sampai ke pengakuan akan perlunya diktatur proletariat … Itulah batu ujian utama buat pengertian gagasan Marxis." Pernyataan Lenin ini diarahkan terutama kepadaK autsky, yang tampil selama beberapa dasawarsa sebagai pendekar Marxisme ortodoks, tetapi menolak revolusi sosialis yang benar-benar terjadi di Rusia. Namun pernyataan tersebut masih sangat relevan dewasa ini, saat tidak sedikit intelektual "berminat" pada sosialisme bahkan menggunakan Marxisme sebagai alat untuk menginterpretasikan kenyataan sosial, tetapi tidak antusias sama sekali untuk memakai teori serta praktek Marxis untuk memperjuangkan revolusi kelas buruh.
Sampai sekian jauh pengkajian kita tentang Marxisme sudah menunjukkan bahwa gagasan ini memuat tiga unsur penting: (1) Marxisme sebagai teori tentang kepentingan umum seluruh kelas buruh di tingkat internasional; (2) Marxisme sebagai hasil dari timbulnya proletariat moderen serta perjuangannya melawan kapitalisme; (3) Marxisme sebagai kemenangan revolusi kelas buruh.K etiga unsur ini bisa digabung dalam satu definisi: Marxisme sebagai teori revolusi proletariat internasional.
"Yang aku tahu," canda Marx, "hanyalah, bahwa aku bukanlah seorang Marxis."
Di abad XX gurauan jenaka dialektis ini telah menjelma menjadi masalah politik yang amat serius. Kita sudah menyaksikan timbulnya banyak macam aliran "Marxis" yang berbeda-beda bahkan sering bertolak-belakang. Esai inib ertujuan untuk menulusuri kekusutun itu. Namun sebelum mulai, mungkin adab aiknya jika kita menjelaskan betapa rumitnya persoalan yang hendak kita diskusikan.
Bukan saja banyak orang yang mengaku Marxis yang memiliki pendapat berbeda mengenai masalah-masalah tertentu (katakanlah akan kecenderungan laju profit untuk turun, atau analisis terperinci tentang UniS oviet); itu wajar dalam setiap gerakan politik yang sehat dan teguh. Persoalannya jauh lebih rumit: bahwa kaum "Marxis" sering saling memenjara,m emerangi serta membunuh; yang lebih merisaukan lagi, bahwa dalam semua konflik sosial, ada banyak kelompok atau tokoh "Marxis" mengambil sikap yang sama sekali bertentangan. Misalnya Lenin dan Plekhanov [seorang tokoh sosial-demokrat] di Rusia tahun 1917; Partai Komunis dan partai revolusioner POUM di Spanyol masa pemberontakan di Barcelona tahun 1936; dan di Eropa Timur masa ambruknya blok Soviet. Kontradiksi inilah yang mendorong kita untuk melontarkan pertanyaan: mana tradisi Marxis yang sejati?
Ada yang samasekali menolak pertanyaan tersebut, denganm enyatakan, tidak ada poinnya mencari Marxisme yang "sebenarnya". Mereka puas dengan menerima semua klaim atas nama Marxis. Dari satu sisi pendekatan ini agak bermanfaat buat kaum pendukung ideologis sistem kapitalis, yang suka menyamakan semua aliran revolusioner dengan Stalin dan Pol Pot. Dari sisi lain pendekatan ini juga disukai oleh para "Marxolog" akademis, yang suka menulis "buku pegangan" tentang bermacam-macam aliran politik tanpa memihak. Tetapi pendekatan semacam itu terlalu pasif. Kita yang ingin bertindak secara praktis untukm emperjuangkan perubahan sosial, harus membedakan antara yang benar dan yang palsu.
Ada yang berupaya memecahkan masalah ini dengan menyamakan Marxisme dengan karya Marx sendiri, kemudian membandingkan karya tokoh politik lain dengan patokan itu. Namun ini pendekatan religius. Menurut FriedrichE ngels, Marxisme "bukanlah sebuah dogma melainkan harus memandu aksi", makanya teori tersebut harus terus hidup dan berkembang, harus mampu menganalisis alam nyata yang senantiasa mengalami perubahan – alam nyata yang sudah berubah secara dahsyat sejak meninggalnya Marx sendiri. Meskipun dengan alasan historis kita memberi nama Marx sendiri untuk teori Marxisme, tradisi ini tidak bisa direduksi secara dogmatis kepada karya-karyanya saja. Seperti yang Leon Trotsky tulis, "Pada pokoknya Marxisme adalah metode analisis: bukan analisis akan teks-teks saja melainkan terutama akan hubungan sosial."
Kutipan Trotsky ini menunjuk kepada suatu pendekatan lain yang diterapkan oleh Georg Lukacs. Dalam bukunya Sejarah dan Kesadaran Kelas (Geschichte und Klassenbewusstsein, atau History and Class Consciousness),L ukacs bertanya, apa itu Marxisme? Jawabannya:
Marxisme ortodox tidak … berarti menerima tanpa kritik segala hasil karya penyelidikan Marx. Bukan berarti ‘percaya’ kepada tesis ini atau itu, atau pengkajian sebuah kitab suci. Sebaliknya, istilah ‘ortodox’ hanya berkenaan dengan masalah metode.
Usulan ini jauh lebih berbobot dari usulan sebelumnya. Lukacs mengerti bahwa teori kita harus terus berkembang. Metode dialektis ini adalah unsur penting dalam gagasan Maxisme. Meski begitu, pendekatan Lukacs tidaklah memadai. Tidaklah mungkin untuk membuat batas pemisah yang mutlak antara metode Marx dan analisis Marx lainnya, atau mereduksi isi pokok teorinya pada metode belaka. Umpama yang dianjurkan oleh Lukacs sendiri justru memperlihatkan kesalahannya:
"Biar kita taruh misalnya," tulisnya, "bahwa penelitian moderen telah menyangkal semua tesis Marx secara tersindiri. Kalaupun itu terbukti,s eorang Marxis ‘ortodox’ bisa saja menerima semua hasil penilitian tersebut tanpa ragu-ragu, kemudian menolak keseluruhan tesis Marx, tanpa meninggalkan sikap ortodoksnya sedikit pun."
Argumentasi ini tidak meyakinkan. Misalnya, seandainya sistem kapitalis menjelma menjadi masyarakat birokratis internasional tipe baru tanpa kontradiksi dan persaingan intern, maka Marxisme (yang mendasarkan diri pada kontradiksi dan perjuangan ekonomi, sosial dan politik) terang terbukti salah. Dan kaum pemikir seperti James Burnham yang meramalkan akan perkembangan demikian terbukti benar. Seperti yang ditulis Trotsky saat membicarakan kemungkinan tersebut, dalam kasus semacam itu "hanya tinggal mengakui bahwap rogram sosialis, yang mendasarkan diri pada konstradiksi intern kapitalisme, ternyata utopia saja."
Kita mungkin bisa tergoda untuk mendefinisikan Marxisme sebagai sebuah metode yang disertai dengan sejumlah analisis serta anjuran utama. Namun ini hanya akan menimbulkan pertanyaan lain, yaitu, analisis dan anjuran mana yang utama, dan mana yang sekunder? Bagamaina caranya agar bisa lolos daril ingkaran setan ini? Caranya ialah bukan dengan usaha yang sia-sia untuk menarik tesis abstrak tertentu dari karya Marx, melainkan dengan menggunakan teoriM arxis untuk menyimak Marxisme sendiri secara utuh.
Bukan saja banyak orang yang mengaku Marxis yang memiliki pendapat berbeda mengenai masalah-masalah tertentu (katakanlah akan kecenderungan laju profit untuk turun, atau analisis terperinci tentang UniS oviet); itu wajar dalam setiap gerakan politik yang sehat dan teguh. Persoalannya jauh lebih rumit: bahwa kaum "Marxis" sering saling memenjara,m emerangi serta membunuh; yang lebih merisaukan lagi, bahwa dalam semua konflik sosial, ada banyak kelompok atau tokoh "Marxis" mengambil sikap yang sama sekali bertentangan. Misalnya Lenin dan Plekhanov [seorang tokoh sosial-demokrat] di Rusia tahun 1917; Partai Komunis dan partai revolusioner POUM di Spanyol masa pemberontakan di Barcelona tahun 1936; dan di Eropa Timur masa ambruknya blok Soviet. Kontradiksi inilah yang mendorong kita untuk melontarkan pertanyaan: mana tradisi Marxis yang sejati?
Ada yang samasekali menolak pertanyaan tersebut, denganm enyatakan, tidak ada poinnya mencari Marxisme yang "sebenarnya". Mereka puas dengan menerima semua klaim atas nama Marxis. Dari satu sisi pendekatan ini agak bermanfaat buat kaum pendukung ideologis sistem kapitalis, yang suka menyamakan semua aliran revolusioner dengan Stalin dan Pol Pot. Dari sisi lain pendekatan ini juga disukai oleh para "Marxolog" akademis, yang suka menulis "buku pegangan" tentang bermacam-macam aliran politik tanpa memihak. Tetapi pendekatan semacam itu terlalu pasif. Kita yang ingin bertindak secara praktis untukm emperjuangkan perubahan sosial, harus membedakan antara yang benar dan yang palsu.
Ada yang berupaya memecahkan masalah ini dengan menyamakan Marxisme dengan karya Marx sendiri, kemudian membandingkan karya tokoh politik lain dengan patokan itu. Namun ini pendekatan religius. Menurut FriedrichE ngels, Marxisme "bukanlah sebuah dogma melainkan harus memandu aksi", makanya teori tersebut harus terus hidup dan berkembang, harus mampu menganalisis alam nyata yang senantiasa mengalami perubahan – alam nyata yang sudah berubah secara dahsyat sejak meninggalnya Marx sendiri. Meskipun dengan alasan historis kita memberi nama Marx sendiri untuk teori Marxisme, tradisi ini tidak bisa direduksi secara dogmatis kepada karya-karyanya saja. Seperti yang Leon Trotsky tulis, "Pada pokoknya Marxisme adalah metode analisis: bukan analisis akan teks-teks saja melainkan terutama akan hubungan sosial."
Kutipan Trotsky ini menunjuk kepada suatu pendekatan lain yang diterapkan oleh Georg Lukacs. Dalam bukunya Sejarah dan Kesadaran Kelas (Geschichte und Klassenbewusstsein, atau History and Class Consciousness),L ukacs bertanya, apa itu Marxisme? Jawabannya:
Marxisme ortodox tidak … berarti menerima tanpa kritik segala hasil karya penyelidikan Marx. Bukan berarti ‘percaya’ kepada tesis ini atau itu, atau pengkajian sebuah kitab suci. Sebaliknya, istilah ‘ortodox’ hanya berkenaan dengan masalah metode.
Usulan ini jauh lebih berbobot dari usulan sebelumnya. Lukacs mengerti bahwa teori kita harus terus berkembang. Metode dialektis ini adalah unsur penting dalam gagasan Maxisme. Meski begitu, pendekatan Lukacs tidaklah memadai. Tidaklah mungkin untuk membuat batas pemisah yang mutlak antara metode Marx dan analisis Marx lainnya, atau mereduksi isi pokok teorinya pada metode belaka. Umpama yang dianjurkan oleh Lukacs sendiri justru memperlihatkan kesalahannya:
"Biar kita taruh misalnya," tulisnya, "bahwa penelitian moderen telah menyangkal semua tesis Marx secara tersindiri. Kalaupun itu terbukti,s eorang Marxis ‘ortodox’ bisa saja menerima semua hasil penilitian tersebut tanpa ragu-ragu, kemudian menolak keseluruhan tesis Marx, tanpa meninggalkan sikap ortodoksnya sedikit pun."
Argumentasi ini tidak meyakinkan. Misalnya, seandainya sistem kapitalis menjelma menjadi masyarakat birokratis internasional tipe baru tanpa kontradiksi dan persaingan intern, maka Marxisme (yang mendasarkan diri pada kontradiksi dan perjuangan ekonomi, sosial dan politik) terang terbukti salah. Dan kaum pemikir seperti James Burnham yang meramalkan akan perkembangan demikian terbukti benar. Seperti yang ditulis Trotsky saat membicarakan kemungkinan tersebut, dalam kasus semacam itu "hanya tinggal mengakui bahwap rogram sosialis, yang mendasarkan diri pada konstradiksi intern kapitalisme, ternyata utopia saja."
Kita mungkin bisa tergoda untuk mendefinisikan Marxisme sebagai sebuah metode yang disertai dengan sejumlah analisis serta anjuran utama. Namun ini hanya akan menimbulkan pertanyaan lain, yaitu, analisis dan anjuran mana yang utama, dan mana yang sekunder? Bagamaina caranya agar bisa lolos daril ingkaran setan ini? Caranya ialah bukan dengan usaha yang sia-sia untuk menarik tesis abstrak tertentu dari karya Marx, melainkan dengan menggunakan teoriM arxis untuk menyimak Marxisme sendiri secara utuh.
Langganan:
Postingan (Atom)
